RINGKASAN

Pupuk briket Palmo merupakan salah satu jenis pupuk majemuk NPK berbentuk briket elips, dengan dimensi ukuran diameter lingkar sekitar 1 cm dan ketebalan 0,3-0,4 cm, memiliki berat sekitar 4-5 gram/butir.  Penggunaan pupuk briket Palmo pada tanaman sawit telah digunakan cukup luas, dimulai sejak akhir tahun 90-an. Telaah aplikasi pengujian penggunaan pupuk briket Palmo dalam kemampuannya menyediakan dan melepaskan nutrisi untuk mengukur efisiensinya dilakukan melalui tahap penelitian skala laboratorium dan percobaan di lapangan selama periode 2012-2015. Melalui percobaan demontrasi, penggunaan pupuk briket Palmo telah diujikan di perkebunan sawit pada tanah marginal gambut dan tanah bertekstur kasar sebagai tanah pasiran.   Hasil pengujian menunjukan bahwa pelepasan unsur pada pupuk briket Palmo dalam menyediakan nutrisi N berjalan konsisten selama periode sekitar 6 bulan, sedangkan pupuk tunggal dari Amonia Base (ZA dan Urea) hanya mampu melepaskan nutrisi  tidak lebih dari 1 bulan. Kehilangan unsur N dan K asal pupuk relatif lebih tinggi dibanding unsur P.  Urutan tingkat kehilangan nutrisi NPK akibat perkolasi yang diujikan pada tanah mineral dari urutan terkecil berturut turut : Briket Palmo < pupuk compound granul < pupuk tunggal.  Penggunaan pupuk briket Palmo pada kelapa sawit  menunjukan efektifitas yang lebih baik dibanding pupuk konvensional, mampu meningkatkan hasil tandan segar sekitar 3,2 – 16,8 %, serta pada tanah gambut dan tanah pasiran mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sekitar 34,8 – 46,1 %.  Penggunaan pupuk briket Palmo di perkebunan sawit sudah dilakukan pada skala komersial di perusahaan perkebunan sawit  besar.

Kata kunci  :  Pupuk, pupuk briket, palmo, sawit, efisiensi pemupukan, gambut, pasiran, lahan marginal

 

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pupuk merupakan salah satu variabel dalam peningkatan produktivitas tanaman. Kemampuan pupuk dalam meningkatkan produktivitas tanaman sangat signifikan. Pakar agronomis telah banyak melaporkan bahwa penggunaan pupuk pada tanah yang miskin hara telah memacu peningkatan produktivitas biomassa tanaman hingga mencapai lebih dari 100% dibanding tanpa dipupuk.  Oleh karena itu, pada setiap budidaya pertanian, tindakan pemupukan seolah-olah menjadi suatu kewajiban yang perlu dilakukan.

Tingkat efisiensi pemupukan di Indonesia masih relatif lebih rendah, diperkirakan berkisar di angka 50-70% bila dibanding dengan di negara yang pertaniaannya sudah maju.   Pencapaian efisiensi pemupukan yang rendah ini kendala utamanya adalah kondisi lingkungan yang marjinal dan belum maksimalnya dalam aplikasi pemupukan dan pengelolaan budidaya.  Meskipun demikian, upaya untuk meningkatkan efisiensi pemupukan tidak pernah surut, yaitu dengan mengoptimalkan kunci kaidah pemupukan, melalui tepat;  jenis, dosis, cara, waktu dan frekuensi.  Di era pertanian modern, pemahaman berikanlah pupuk sesuai kebutuhannya, tidak sebatas hanya jumlah unsur nutrisi yang dibutuhkan, tetapi juga melakukan pemilihan jenis pupuk sesuai kondisi lingkungannya dengan tujuan untuk mencapai efisiensi pemupukan secara maksimal.

Penggunaan pupuk pada tanaman sawit sudah berlangsung cukup lama. Meskipun teknologi industri pupuk berkembang telah lebih maju, namun penggunaan pupuk untuk sawit di Indonesia  masih sebatas pada penggunaan jenis pupuk tunggal dan pupuk majemuk NPK cepat larut (past release).  Tidak ada yang salah dalam penggunaan jenis pupuk ini, dikarenakan nutrisi pada pupuk segera dibutuhkan tanaman.  Namun dalam penggunaan pupuk sering kurang jeli memperhatikan sifat kondisi lingkungan tertentu yang kurang menguntungan bagi jenis  pupuk yang cepat tersedia, seperti misalnya; pada kondisi tanah yang lemah mengikat nutrisi, potensial redoks buruk yang menghambat ketersediaan dan penyerapan nutrisi, intensitas pergerakan air perkolasi yang cukup tinggi dan aliran air berlebih di permukaan tanah (run off).   Sifat lingkungan marjinal ini sering mengakibatkan efisiensi pemupukan menjadi rendah.  Dampaknya, di lapangan acapkali ditemukan bahwa meskipun tanaman sudah dipupuk cukup tinggi, namun produktivitas tanaman masih belum optimal.  Oleh karena itu, pada kondisi lingkungan tertentu dimana proses kehilangan nutris dan terdapatnya hambatan dalam ketersediaan nutrisi, membutuhkan pupuk yang mampu melepaskan nutrisi secara terkontrol dan lambat tersedia (slow release), sehingga memberikan waktu dan kesempatan perakan menyerap makanan yang dibutuhkannya.

Pupuk briket Palmo merupakan salah satu jenis pupuk slow release nutrisi untuk tanaman.  Kontrol pelepasan nutrisi pada pupuk ini bekerja secara fisik dengan ukuran butir yang relatif lebih besar dan secara kimia dengan kandungan bahan slow release agent (SRA) bermuatan koloidal yang mampu mengikat nutrisi seraca elektrostatik.  Pupuk ini sudah lama digunakan pada tanaman sawit baik di perkebunan sawit besar milik pemeritah maupun swasta.   Catatan informasi hasil koleksi data di lapangan menunjukan bahwa keunggulan pupuk Palmo pada sawit utamanya sangat sesuai diaplikasikan pada lahan marginal yang sifat lingkungannya dikontrol oleh pergerakan air yang dapat mengakibatkan kehilangan nutrisi pupuk sangat tinggi.  Pupuk Palmo sangat sesuai penggunaannya pada lahan gambut, lahan pasang surut, lahan tanah pasiran dan lahan berlereng.

Areal perkebunan sawit di Indonesia  sangat luas dan lokasinya tersebar di beberapa pulau, sehingga memiliki kondisi lahan yang cukup heterogen.  Sebagian perkebunan sawit berada pada kondis lahan marginal, diantaranya tipe lahan gambut dan pasang surut.   Pada kondisi lahan marginal demikian, salah satu kendala yang sering menjadi faktor pembatas pertumbuhan adalah keterbatasan ketersediaan nutrisi bagi tanaman.  Upaya pemupukan secara maksimal sudah dilakukan seperti penggunaan pupuk tunggal dan pupuk NPK majemuk fast release, namun pada kondisi tertentu di lapangan tetap saja masih dijumpai ada beberapa kendala yang membutuhkan solusi untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.  Penggunaan pupuk NPK majemuk slow release merupakan salah satu alternatif yang berpotensi dapat diterapkan.  Sebagaimana dilaporkan di beberapa tempat perkebunan sawit bahwa penggunaan pupuk slow release briket Palmo mampu meningkatkan hasil tanaman sawit di tanah gambut dan tanah pasang surut.

Tujuan dan Keluaran

  1. Menyajikan informasi penggunaan pupuk briket Palmo untuk tanaman sawit dalam kemampuan menyediakan nutrisi unsur NPK, kehilangan nutrisi yang diaplikasikan pada tanah serta pencapaian tingkat efisiensi pemupukan pada tanah marginal untuk jenis tanah gambut dan tanah pasiran di area perkebunan sawit.
  2. Pemupukan NPK slow release briket Palmo mampu meningkatkan produktivitas tanaman sawit katagori tanaman menghasilkan (TM) maupun tanaman belum menghasilkan (TBM) pada tanah gambut dan atau tanah pasang surut hingga diatas 10% dibanding dengan pemupukan cara konvesional.

II. LAHAN GAMBUT DAN PASIRAN HUBUNGANNYA DENGAN KETERSEDIAAN NUTRISI

Lahan gambut berdasarkan tata nama taxonomi tanah termasuk order Histosol.  Tanah ini tersusun dari sisa tanaman  membentuk lapisan organik material, dikenal dengan istilah gambut tebal dan gambut dalam. Pada gambut tebal dengan lapisan lebih 2 meter hampir dipastikan minim pasok unsur yang dibutuhkan tanaman dari lapisan batuan kerak bumi di bawahnya, sehingga dipastikan miskin nutrisi.  Sedangkan pada gambut dangkal masih dimungkinkan terjadinya suplai nutrisi di permukaan tanah.

Lahan gambut berdasarkan geomorfologinya selalu dipengaruhi oleh aktivitas air.  Permukaan air pada tubuh tanah gambut dipengaruhi oleh aktivitas tinggi rendahnya kondisi ground water table (GWT).  Situasi gerakan air pada tanah gambut yang dikaitkan dengan keadaan nutrisi tanaman di permukaan tanah sering turut mengontrol ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan situasi cenderung menjadi kurang menguntungkan bagi ketersediannya.  Nutrisi tanaman menjadi mudah hilang karena pergerakan air.  Pemupukan pada lahan ini yang menggunakan jenis pupuk past release, seperti misalnya jenis pupuk tunggal, pada saat kondis air berlebihan akibat GWT naik, akan terjadi pelarutan nutrisi pupuk secara cepat yang selanjutnya nutrisi asal pupuk yang terlarut tersebut akan terbawa gerakan air GWT ke bawah dan seefage gerakan horizontal air menuju parit drainase.  Akibatnya pada lahan lahan seperti ini, acap kali dijumpai bahwa walaupun sudah dilakukan pemupukan akan tetapi kondisi tanaman masih sering terlihat gejala defisiensi nutrisi.

Tanah Pasiran tanah yang memiliki tekstur kasar berbutir pasir.  Jenis tanah mineral yang dominan termasuk katagori ini adalah tanah Regosol dan Spodosol.  Ciri umum dari tanah ini adalah selain kadar tekstur tanah didominasi pasir juga tanah ini memiliki kandungan C organik dan liat yang rendah.  Tanh pasiran memiliki bahan pengikat turisi sangat rendah sehingga kemampuan menahan nutrisi di dalam tanah sangat rendah dikarenakan kemampuaan kapasitas tanah menahan air juga sangat rendah.   Tekstur tanah kasar, porositas tanah tinggi dan kemamuan mengikat nutrisi tanah rendah, maka pada tanah-tanah pasiran sangat mudah nutrisi yang ada didalam tanah relative mudah hilang dalam tubuh tanah.  Kehilangan nutrisi banyak terjadi dikarenakan pencucian.  Nutrisi yang terdapat dipermukaan tanah relative mudah terbawa oleh pergerakan air perkolasi sehingga dan menghilang dari lapisan kedalaman efektif tanah.  Dengan demikian, pada umumnya tanah pasiran memiliki kandungan nutrisi rendah dan pemupukan yang dilakukan di permukaan tanah menggunakan jenis pupuk yang cepat tersedia (past release) akan lebih banyak hilang karena pencucian, sehingga efisiensi pemupukan menjadi sangat rendah.

Pada lahan gambut yang lingkungannya selalu dikontrol oleh pergerakan air di permukaan tanah dan tanah pasiran yang kemampuan tanah mengikat nutrisi rendah membutuhkan pengelolaan nutrisi secara bijaksana.   Tindakan pemupukan secara efektif dilakukan selaras dengan pengelolaan water management, pemilihan jenis pupuk dan pengaturan frekuensi aplikasi secara  tepat guna.   Penggunaan pupuk jenis slow release pada lahan lahan ini akan memberikan kesempatan perakaran lebih banyak menyerap nutrisi asal pupuk dikarenakan kehilangan nutrisi asal pupuk dapat diminimalisasi.

saraswanti pupuknpk npk pupuksawit palmo 02

Pupuk NPK Palmo PT Saraswanti Anugerah Makmur

III. PUPUK BRIKET PALMO KHUSUS UNTUK SAWIT

  • Sifat Fisik dan Kimia Pupuk Briket

Pupuk briket Palmo merupakan jenis pupuk padatan memiliki sifat fisik berbentuk elifs dengan ukuran butir size berdiameter sekitar 1 cm dan ketebalan 0,4-0,5 cm.   Berat pupuk per butir sekitar 4-5  gram dengan berat jenis sekitar 1,33-1,75 gram/Cm3.  Dibanding dengan pupuk konvensional granuler (diameter 0,2-0,4 cm), formulasi pupuk briket memiliki ukuran 4-6 kali relatif lebih besar.

Pupuk briket Palmo tersusun dari beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman, utamannya mengandung haran makro utama yang dibutuhkan tanaman yaitu N, P dan K.   Penambahan unsur hara yang selama ini kurang diperhatikan, namun sesungguhnya memiliki fungsi yang dapat berkontribusi nyata terhadap perbaikan kualitas produksi tanaman juga menjadi bagian untuk memperkuat kualitas formulasi pupuk, misalnya penambahan hara mikro secara lengkap terdiri dari unsur Cu, Zn, Fe, B dan Si.   Untuk meningkatkan kualitas pupuk, rekayasa komposisi acapkali dilakukan dengan memperkaya komposisi melalui penambahan bahan yang mampu meningkatkan harkat kesuburan tanah, seperti penambahan humic substance dan Slow Release Agent (SRA).  Mineral koloidal sperti campuran zeolite dan bentonit juga ditambahkan dengan tujuan untuk memperkaya peranan pupuk dalam mengontrol pelepasan nutrisi.

Keunggulan dari formulasi fisik pupuk briket PT SAM terletak pada sizing dan kemasifan pupuk.  Ukuran luas butir yang lebih besar memiliki peluang integrasi keseluruhan unsur dalam partikel butiran secara lengkap yang lebih terjamin dan memiliki pengaruh terhadap pelarutan pupuk yang secara relatif lebih lambat dibanding dengan pupuk yang memiliki diameter partikel lebih kecil.  Sifat kemasipan pupuk berkaitan dengan kerapatan pori mikro di permukaan pupuk, direkayasa melalui proses compressing menghasilkan berat jenis butiran yang lebih besar (1,33-1,50 g/cm3) dan dapat membantu proses hancuran hidrolisis pelarutan bahan menjadi lebih lambat.  Sizing dan kemasifan pupuk berfungsi sebagai salah satu pengendali sifat pupuk slow release.   Pelepasan hara pada formulasi pupuk briket dengan kedua sifat fisik demikian akan menjamin ketersediaan hara mengikuti pola pertumbuhan tanaman, khususnya untuk tanaman tahunan yang siklus periode tumbuhnya relatif lebih panjang dibanding tanaman semusim.

Formulasi pupuk dalam bentuk briket dengan ukuran butiran dan kemasifan pupuk yang berperan dalam menjaga pelepasan hara secara terkendali, nampaknya cukup menonjol diaplikasikan pada tanah-tanah dengan tingkat pencucian hara cukup tinggi, yaitu pada tanah bertekstur kasar.  Nilai peningkatan hasil produktivitas tanaman perkebunan di tanah bertekstur kasar yang dipupuk formula pupuk briket relatif lebih besar dibanding dengan peningkatan hasil produktivitas tanaman pada tanah yang relatif lebih halus.

  • Mekanisme Pengaturan Kontrol Release Pupuk Briket

Kecepatan pelarutan pupuk menjadi sasaran utama dalam rekayasa formulasi sifat fisik pupuk.  Sifat ini menjadi penting berkaitan dengan kemampuan pupuk dalam menyediaakan bagi tanaman.  Formulasi pupuk briket Palmo menggunakan teknologi untuk mengatur kecepatan pelarutan pupuk menggunakan mekanisme cara kimia dan fisik.  Secara konsisten, pupuk ini mengontrol kepatan pelarutan pupuk dalam menyediakan hara secara lambat terkendali (slow release) sesuai dengan pola pertumbuhan tanaman.  Jenis pupuk ini sangat cocok untuk tanaman perkebunan yang sifat  siklus hidup pertumbuhannya relatif cukup panjang.

Kelarutan dan pelepasan hara pupuk briket Palmo menjadi bersifat slow release dilakukan menggunakan teknologi kimia melalui penambahan bahan aditif SRA dan menggunakan teknologi fisika melalui pengaturan sizing (ukuran butir) dan kemasifan.  Kedua mekanisme pengendali ini berjalan secara sinergi.

Formulasi pupuk briket Palmo memiliki kemampuan terlarut dan menyediakan hara pada kecepatan  seimbang.  Pupuk  menyediakan hara bagi tanaman di dalam tanah diawali dengan terjadinya proses persentuhan materi pupuk dengan air asal kelembaban tanah.  Reaksi kimia hidrolisis di permukaan materi pupuk akan menyebabkan terjadinya peristiwa ionisasi pada masing-masing unsur yang terkandung dalam bahan.   Peristiwa reaksi kimia ini menyebabkan terjadinya pelarutan bahan pupuk untuk  berubah menjadi  hara  dalam  bentuk fraksi ion-ionnya.  Kelarutan bahan pupuk briket Palmo akan segera membebaskan unsur-unsur hara untuk ke dalam larutan tanah, yang segera dimanfaatkan tanaman, disajikan pada Gambar 2.

saraswanti pergerakan

Gambar 2. Pelepasan hara yang terkandung dalam slow release briket Palmo ke lararutan tanah

IV. HASIL PENGUJIAN EFISIENSI PUPUK BRIKET PALMO PADA SAWIT

Aplikasi pemupukan briket Palmo pada tanaman telah dilakukan melalui serangkaian tahapan penelitian percobaan yang mendasar, meliputi ;  kegiataan pengujiaan di laboratorium dan percobaan lapangan.   Rangkuman hasil-hasil pengujian pemupukan briket Palmo pada tanaman sawit disajikan, sebagai berikut ;

  • Percobaan Penelitian di Laboratorium

Pengujian pelepasan nutrisi pada pupuk briket Palmo pada tubuh  tanah telah dilakukan melalui percobaan simulasi menggunakan media tanah dalam lisimeter.  Dua kegiatan penelitian yang dilakukan pada tahun yang berbeda menunjukkan hasil pelepasan nutrisi pada pupuk briket Palmo dengan hasil hasil yang cukup konsisten disajikan pada Gambar 2.

saraswanti Gambar 2 Pelepasan hara yang terkandung dalam formulasi pupuk slow release

Gambar 1. Pelepasan hara N dari pupuk briket yang diperkaya Slow Release Agent (SRA)

Pupuk briket Palmo berkemampuan menyediakan nutrisi N dalam tanah sejak minggu pertama setelah aplikasi dan ketersediaan optimal tercapai setelah minggu ke 2 dan konsiten melepasakan nutrisi optimal sampai minggu ke 24 setelah aplikasi pupuk.  Dibanding dengan pemupukan konvensional dari jenis pupuk Amonia-base (ZA dan Urea) bahwa pupuk konvensional melepaskan nutrisi N optimal mencapai puncaknya terjadi pada minggu ke 2 setelah aplikasi dan setelah itu ketersediaannya menurun dan tidak terdeteksi menyediakan nutrisi sampai minggu ke 4.  Dengan demikian, pupuk Palmo relatif lebih konsiten dalam menyuplai nutrisi N hingga minggu ke 24 dibanding pupuk konvensional amonia-base (Suyanto Simon dan Edi Premono, 2005).

saraswanti Gambar 3 Hasil pengukuran kehilangan nutrisi N P dan K menggunakan metode lisimeter

Gambar 3. Hasil pengukuran kehilangan nutrisi N, P dan K pada pemupukan briket, granul dan pupuk tunggal pada tanah mineral menggunakan metode lisimeter.

Pupuk briket  Palmo secara konsisten mensuplai nutrisi NPK pada kondisi optimal hingga minggu 24 setelah aplikasi pupuk.  Kehilangan nutrisi pada pupuk Palmo akibat proses perkolasi yang dimonitor selama 24 minggu relatif lebih kecil dibanding jenis pupuk konvensional.  Pada Gambar 3 ditunjukan bahwa kehilangan nutrisi N asal pupuk briket relatif lebih rendah dibanding pupuk tunggal maupun pupuk majemuk granul.  Kehilangan nutrisi sudah mulai terlihat pada pengamatan bulan 2.  Kehilangan N pada pupuk briket pada bulan ke 2 mencapai  sekitar 50 ppm, sedangkan pada pupuk tunggal kehilangan N asal pupuk mencapai sekitar 120 ppm atau sekitar 2,4 kali lebih tinggi dibanding pupuk briket.  Kehilangan N meningkat jauh lebih besar pada waktu pengukuran bulan 6 dengan kehilangan N pada pupuk briket sekitar 150 ppm, sedangkan pada pupuk pupuk majemuk granul dan pupuk tunggal kehilangan N sekitar 240 ppm dan 270 ppm.   Pola yang sama ditunjukan pula oleh kehilangan unsur K asal pupuk.   Pada pengamatan bulan 6 menunjukkan bahwa kehilangan K pada pupuk briket, pupuk majemuk dan tunggal berturut turut yaitu sekitar 80 ppm, 110 ppm dan 220 ppm.   Hal yang berbeda ditunjukan bahwa kehilangan unsur P asal pupuk briket maupun pupuk tunggal dan pupuk majemuk relatif lebih kecil  dibanding kehilangan yang terjadi pada unsur N dan K.   Diketahui bahwa unsur N dan K di dalam tanah bersifat sangat mobil di dalam tanah, sedangkan unsur P bersifat immobil.  Secara umum, urutan tingkat kehilangan nutrisi NPK akibat perkolasi yang diujikan pada tanah mineral dari urutan terkecil berturut turut : Slow release Palmo < pupuk compound granul < pupuk tunggal.

  • Pengujian Penggunaan Pupuk Briket Palmo Pada Percobaan Lapangan

Kegiatan pengujian penggunaan pupuk briket “Palmo di lapangan dilakukan melalui percobaan demontrasi dengan skala luasan minimal 5 ha.  Lahan yang dipilih merupakan lahan marginal berjenis tanah gambut dan lahan tanah pasiran di perkebunan sawit.    Percobaan dilaksanakan pada periode tahun 2012-2015.

  • Pengujian Pada Tanah Gambut

Tanah gambut terbentuk dari penumpukan bahan organik yang mengalami proses degradasi lambat.  Proses ini disebabkan karena kondisi reduksi akibat genangan air yang mengganggu proses perombakan bahan organik. Budidaya sawit dilahan gambut mempunyai banyak tantangan, salah satunya adalah penyediaan unsur hara bagi tanaman.  Untuk dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman, diperlukan teknologi pemupukan yang sesuai. Pupuk lepas lambat merupakan salah satu teknologi yang sesuai untuk penyediaan hara di lahan gambut.  Pengujian terhadap pupuk lepas lambat terkendali  briket Palmo telah dilakukan dibeberapa wilayah.

Hasil pengujian pada tanah gambut di kebun Kandeng Kecamatan Kotabesi Kabupaten Kotawaringin menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas penggunaan pupuk Majemuk NPK briket Palmo sebesar 39,6% dan 37,3% dibandingkan pupuk tunggal. Pada pengamatan di kebun Klangsam Kecamatan Baning Kabupaten Langsam, peningkatan produktivitas pupuk majemuk NPK briket Palmo sebesar 34,4% dibandingkan dengan pupuk tunggal. Kecenderungan yang sama juga ditunjukan pada pengujian di kebun Tudungsaji Kecamatan Baning Kabupaten Langsam, peningkatan terjadi sebesar 27,8% dibandingkan dengan pupuk tunggal.

Tabel 2. Pengujian efisiensi pupuk tunggal dan briket Palmo dibeberapa lokasi kebun pada tanah gambut.

Lokasi Kebun Pupuk Tunggal

(ton/ha/tahun)

Briket Palmo

(ton/ha/tahun)

Peningkatan (%)
Kebun Kanden Kec Kotabesi Kab Kotawaringin Timur 9.6 13.4 39.6
Kebun Kanden Kec Kotabesi Kab Kotawaringin Timur 7.5 10.3 37.3
Kebun Klangsam Kec Baning Kab Langsam 6.4 8.6 34.4
Kebun Tudungsaji Kec Baning Kab Langsam 7.2 9.2 27.8
Rerata 7.7 10.4 34.8

Sumber data: data koleksi tim PT Saraswanti Anugerah Makmur

Secara umum, peningkatan produktivitas penggunaan pupuk majemuk dibandingkan dengan pupuk tunggal di lahan gambut sebesar 34,8%. NPK briket Palmo merupakan pupuk majemuk berbentuk briket dengan karakter lepas lambat (slow release). Jenis karakter pupuk ini cocok untuk tanah gambut dimana sering terjadi kehilangan hara akibat pencucian. Walaupun Kapasitas Tukar Katiaon (KTK) gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan secara berulang atau menggunakan jenis pupuk yang lepas lambat tersedia. Penggunaan pupuk yang pelepasan nutrisi lambat seperti halnya pupuk briket Palmo akan lebih baik dibandingkan pupuk NPK pada umumnya, karena akan lebih efisien dan dapat meningkatkan produktifitas tanaman sawit (Radjagukguk, 1983).

Hasil pengamatan pada sawit TBM, menunjukkan bahwa penggunaan pupuk majemuk secara umum meningkatkan pertumbuhan tanaman baik dilihat dari luas daun, jumlah anak daun, rerata panjang anak daun, rerata lebar anak daun, jumlah pelepah daun dan panjang pelepah. Hasil pengamatan terhadap pengaruh penggunaan pupuk majemuk NPK Palmo dibandingkan tunggal di kebun Klangsam, Kecamatan Sintang Kabupaten Sintang Kalimantan Barat disajikan pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Pengujian efisiensi pupuk tunggal dan briket Palmo pada tanah gambut sawit TBM di   kebunKlangsam, Kecamatan Sintang Kabupaten Sintang Kalimantan Barat.

Perlakuan Luas daun

(m2)

Jumlah anak daun

(buah)

Rerata panjang anak daun

(cm)

Rerata lebar anak daun

(cm)

Jumlah pelepah daun

(buah)

Panjang pelepah

(buah)

Palmo 1,5 3,5 185 52 3,2 33,6 216
Palmo 2 3 172 50 3,1 31,1 203
Tunggal 2,6 167 48 2,9 30,9 193

Sumber data: data koleksi tim PT Saraswanti Anugerah Makmur

  • Pengujian Pada Tanah Pasiran

Tanah pasiran mempunyai karakter antara lain adalah struktur kersai (belum berstruktur), konsistensi sangat gembur, daya ikat air sangat rendah, permeabilitas sangat cepat, infiltrasi sangat cepat, kemantapan agregat sangat rendah dan suhu tanah relatif tinggi pada permukaan terbuka. Secara kimia tanah pasiran mempunyai kesuburan tanah yang rendah, kapasitas pertukaran kation rendah dan salinitas relatif tinggi.

Permasalahan yang sering dijumpai di tanah pasiran diantaranya adalah kemampuan menahan air serta kesuburan aktual tanah yang rendah. Hal ini menyebabkan adanya pencucian yang intensif pada saat terjadi hujan atau irigasi. Penyediaan pupuk dengan dosis kecil dan berulang sebaiknya diterapkan pada lahan jenis pasiran ini. Jenis pupuk lepas lambat merupakan salah satu solusi pada pemupukan dilahan pasiran. Hasil kajian terkait penggunaan pupuk majemuk NPK Palmo lepas lambat dibandingkan dengan pupuk tunggal disajikan dalam Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Pengujian efisiensi pupuk tunggal dan briket Palmo dibeberapa lokasi kebun pada tanah pasiran.

Lokasi Kebun Pupuk Tunggal

(ton/ha/tahun)

Briket Palmo

(ton/ha/tahun)

Peningkatan (%)
Kebun Serawak Damai – Kalimantan Timur* 16.0 26.5 65.6
Kebun Kintap -Kalimantan Selatan 16.7 21.2 26.6
Rerata 16.4 23.8 46.1

Sumber data:   data koleksi tim PT Saraswanti Anugerah Makmur

*Pengamatan timeline series.

Produktivitas sawit di kebun Serawak Damai Provinsi Kalimantan Timur pada penggunaan pupuk tunggal adalah 16 ton per hektar per tahun, sedangkan pada penggunaan NPK Pamo adalah 26,5 ton per hektar per tahun. Peningkatan hasil yang terjadi mencapai 65,6% dibandingkan dengan menggunakan pupuk tunggal. Pada pengujian lain di kebun Kintap Provinsi Kalimantan Selatan, pada perlakuan pupuk tunggal produktivitas kebun mencapai 16,7 ton per hektar per tahun, sedangkan pada penggunaan pupuk majemuk NPK Palmo naik menjadi 21,2 ton per hektar per tahun. Secara umum, peningkatan produktivitas sawit dengan pupuk majemuk NPK Palmo slow release sebesar 46,1% dibandingkan pupuk tunggal. Hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian Suharta (2007) yang menyampaikan bahwa penggunaan pupuk lepas lambat pada tanah pasiran dapat membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

  • Penggunaan Briket Palmo kala Komersial

Penggunaan briket Palmo pada skala komersial telah diaplikasikan cukup luas di Perusahaan Sawit Besar, sudah dilakukan sejak tahun 2003 hingga saat ini.   Berdasarkan catatan koleksi data kurang lebih sekitar 153 perusahaan besar telah menggunakan produk Palmo, sekitar 30 perusahaan besar hingga saat ini telah menggunakan Palmo adalah sebagai berikut :  PT Bumitama Gunajaya Abadi (BGA),  PT Cipta Plantation Grup, PT Hasnur, PT Bahruni, PT Semadam, PT Suka Damai, PT Perkebunan Sungai Putih, PT BW Plantation, PT Asam Jawa Grup, PT Musi Rawas Grup, PT Multi Prima Entakai, PT Sintang Raya, Perkebunan Sembawa, PT Sawitmas Parenggan, PT Mopoli Raya, PT Medco Agro, PT SJI (Meroke Grup), PT Nesterwin, PT Monrad Intan, PT Pranasta, PT Sanggan Perkasa, PT Saraswanti Sawit Makmur dan PT Mitra Agro Lestari.

 

V. PENUTUP

Pengelolaan pupuk yang baik termasuk pemilihan jenis pupuk yang efektif merupakan salah satu kunci sukses untuk pencapaian produkstivitas hasil tanaman sawit secara optimal.  Kebutuhan pupuk ditentukan berdasarkan basis kebutuhan nutrisi tanaman yang diselaraskan sesuai dengan kondisi lingkungan.

Penggunaan pupuk briket Palmo  telah menjadi trend pemupukan di perkebunan kelapa sawit di lahan marginal tanah gambut dan tanah pasiran.  Hal ini dikarenakan penggunaan pupuk lebih praktis, ketersediaan hara lebih lengkap dan sifat lambat tersedia memberikan kesempatan pupuk menyediakan nutrisi sesuai dengan kebutuhan fisiologi tanaman dan nutrisi pupuk tidak mudah hilang di permukaan tanah, sehingga memiliki efektifitas dan efisiensi yang relatif lebih baik dibanding pupuk konvensional.

Pengembangan teknologi pupuk briket Palmo diarahkan kepada kombinasi formulasi komposisi, ukuran dan bentuk pupuk dan kecepatan pelarutan pupuk.  Pemilihan pupuk sesuai kebutuhan diselasarkan dengan tingkat ketersediaan hara untuk tanaman.   Pupuk briket Palmo  yang bersifat  slow release mampu menyediakan nutrisi hingga 3-6 bulan, sedangkan pupuk tunggal dan pupuk majemuk granul yang fast release mampu menyediakan nutrisi hingga 1-2 bulan sedangkan pupuk yang bersifat  pelepasan unsur pada pupuk briket Palmo dalam menyediakan nutrisi N berjalan konsisten selama periode 6 bulan dengan laju sekitar 200 ppm/bulan.  Laju kehilangan unsur N dan K asal pupuk briket sekitar 80 ppm/bulan, sedangkan unsur P sekitar 0,13 ppm/bulan. Urutan tingkat kehilangan nutrisi NPK akibat perkolasi yang diujikan pada tanah mineral dari urutan terkecil berturut turut : Briket Palmo < pupuk compound granul < pupuk tunggal.   Hasil pengujian pupuk briket Palmo pada kelapa sawit  menunjukan efektifitas dan efisiensi yang lebih baik dibanding pupuk konvensional, mampu meningkatkan hasil tandan segar sekitar 3,2 – 16,8%.  Penggunaan pupuk briket  Palmo pada tanah gambut dan tanah pasiran mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sekitar 34,8 – 46,1 %.  Penggunaan pupuk briket Palmo diperkebunan sawit sudah dilakukan pada skala komersial di perusahaan perkebunan sawit  besar.

DAFTAR PUSTAKA

Engelstad, O. P. 1997. Teknplogi dan Penggunaan Pupuk. Terjemahan. Goenadi, D. H., dan Radjagukguk, B. ed 3. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Jacob. A. and H. V. Uexkull. 1960. Fertilizer Use:Nutrition and Manuring of Trofical Crops. Translet by C. L. Whittles. Hannover. 593 p.

Saraswanti Anugerah Makmur, 2009. Palmo: Legalitas, Rekomendasi dan Hasil Pengujian. Laporan kegiatan kerjasama antara PT SAM dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Sidoardjo.

Saraswanti Anugerah Makmur, 2009. Pukalet: Legalitas, Rekomendasi dan Hasil Pengujian.Laporan kegiatan kerjasama antara PT SAM dengan Pusat Penelitian Karet Sungai Putih. Sidoardjo.

Saraswanti Anugerah Makmur, 2009. Halei: Legalitas, Rekomendasi dan Hasil Pengujian. Laporan kegiatan kerjasama antara PT SAM dengan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia Pasuruan. Sidoardjo.

Saraswanti Anugerah Makmur, 2009. Koka: Legalitas, Rekomendasi dan Hasil Pengujian. Laporan kegiatan kerjasama antara PT SAM dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Jember. Sidoardjo.

Radjagukguk, B. & Joetono (Eds.). 1983. Prosiding Seminar Alternatif Pelaksanaan Pengapuran Tanah Mineral Masam di Indonesia. Bulletin No. 18. Fakultas Pertanian UGM.

Suharta Nata, 2010. Karakteristik dan Permasalahan Tanah Marginal di Kalimantan 139-146. Jurnal Litbang Pertanian, 29(4), 2010.

PENGGUNAAN PUPUK BRIKET PALMO UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN  PADA TANAMAN SAWIT DI TANAH MARGINAL*)

Oleh : Mohamad Mulyadi. Riset Senter PT. Saraswasnti Anugerah Makmur

*) Makalah disajikan pada acara Workshop Teknologi Pemupukan Pada Kelapa Sawit Pada Lahan Marginal, Hotel Aquarius Boutique, Sampit,  12 Desember  2017